Kamis, 05 Februari 2026

Harga Bitcoin Anjlok: Faktor Makro, ETF, dan Likuidasi yang Mempercepat Penurunan

 


Per Jumat, 6 Februari 2026, Bitcoin (BTC) sedang berada dalam fase penurunan tajam. Data harga real-time menunjukkan BTC di kisaran US$64.828, turun sekitar 9,6% dari penutupan sebelumnya, dengan rentang pergerakan intrahari yang lebar—sempat menyentuh high US$71.734 dan low US$60.297. Kondisi seperti ini biasanya terjadi ketika pasar sedang “risk-off” (menghindari aset berisiko), dan tekanan jual diperkuat oleh sentimen makro, arus dana institusional, serta efek domino dari posisi leverage (pinjaman) di pasar derivatif.

Penurunan “saat ini” bukan sekadar koreksi kecil harian, melainkan bagian dari tren melemah yang sudah berlangsung beberapa waktu. Associated Press melaporkan bahwa pada Kamis (5 Februari 2026) BTC turun sekitar 11% dan diperdagangkan di area US$67.000, serta disebut telah kehilangan hampir setengah nilainya sejak rekor US$126.210,50 pada 6 Oktober 2025 (mengacu pada data Coinbase). The Guardian juga menyoroti gambaran yang serupa: BTC sempat turun ke sekitar US$63.000 dan digambarkan sebagai level terendah dalam lebih dari setahun, dengan narasi bahwa reli sepanjang 2024–2025 memudar dan pasar kripto mengalami “crypto crunch” (pengetatan/tekanan besar di sektor kripto).

Kalau kita ingin memahami kenapa BTC bisa turun seperti ini, kita perlu melihat pasar kripto sebagai gabungan dari tiga hal yang saling menguatkan: pertama, faktor ekonomi makro (suku bunga, likuiditas, selera risiko); kedua, arus dana institusional (ETF dan kendaraan investasi lain); ketiga, struktur internal pasar kripto sendiri (leverage tinggi, likuidasi paksa, dan perilaku “whale” atau pemain besar). Ketiga faktor ini sering muncul bersamaan saat volatilitas meningkat: sentimen memburuk → harga turun → posisi leverage tertekan → terjadi likuidasi → tekanan jual makin besar → sentimen makin takut → siklus berulang.

Dari sisi makro, beberapa media pasar menekankan bahwa penurunan BTC kali ini terjadi bersamaan dengan melemahnya selera risiko di aset lain, khususnya saham teknologi. MarketWatch mengaitkan pelemahan BTC dengan kekhawatiran kebijakan moneter setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed, yang memunculkan kembali kekhawatiran mengenai pengetatan likuiditas (misalnya wacana pengurangan neraca bank sentral/quantitative tightening) sehingga aset spekulatif seperti kripto ikut tertekan. Barron’s menambahkan konteks bahwa tekanan pasar juga dipicu melemahnya saham teknologi dan tema AI, yang biasanya punya “korelasi risiko” dengan kripto: ketika investor menjual aset berisiko di saham, sebagian investor juga mengurangi eksposur di kripto.

Bagi pembaca umum, cara paling mudah membayangkan efek makro ini adalah begini: Bitcoin sering dianggap “digital gold”, tetapi dalam praktiknya di banyak fase pasar ia bergerak seperti “aset berisiko” (risk asset). Ketika pasar percaya suku bunga akan turun dan likuiditas akan longgar, dana lebih berani masuk ke aset yang volatil seperti kripto. Sebaliknya, ketika pasar khawatir suku bunga tinggi bertahan lebih lama, atau likuiditas akan diketatkan, investor cenderung mengurangi aset volatil dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Di momen seperti ini, berita tentang arah kebijakan moneter bisa menjadi pemicu yang mempercepat aksi jual, bahkan jika fundamental jangka panjang Bitcoin tidak “berubah” dalam sehari.

Selain faktor makro, ada aspek yang sangat penting: mekanisme internal pasar kripto yang banyak menggunakan leverage. Saat harga turun, posisi long (taruhan harga naik) yang memakai pinjaman akan mengalami margin call—kalau jaminan tidak cukup, bursa derivatif akan menutup paksa posisi tersebut. Penutupan paksa ini biasanya dilakukan dengan menjual aset di pasar, sehingga menambah tekanan jual. Karena itu, penurunan besar sering terjadi bukan hanya karena “orang jual”, tetapi karena “posisi dipaksa jual”. Fenomena ini tercermin dalam laporan tentang besarnya likuidasi di pasar kripto: ada artikel yang menyebut gelombang likuidasi miliaran dolar dalam 24 jam dan menggambarkannya sebagai “tsunami likuidasi”, yang biasanya memperparah gerak turun secara cepat.

Di titik ini, banyak orang bertanya: “Kalau turun karena likuidasi, bukannya setelah likuidasi selesai harga bisa tenang?” Jawabannya: sering kali iya, tetapi tidak selalu cepat. Likuidasi memang bisa “membersihkan” leverage berlebihan, namun setelah itu pasar masih perlu menemukan keseimbangan baru antara pembeli dan penjual. Jika sentimen makro tetap negatif dan arus dana institusional masih keluar, tekanan bisa berlanjut. Jika sebaliknya, setelah leverage bersih dan ada kabar positif yang memulihkan kepercayaan, harga dapat memantul cukup tajam karena kondisi oversold (terlalu banyak dijual).

Salah satu indikator tekanan institusional yang sering dibahas belakangan adalah arus dana ETF spot Bitcoin. AP menyebut bahwa investor menarik sekitar US$5,7 miliar dari spot Bitcoin ETF dari November sampai Januari (berdasarkan data Morningstar Direct), yang berarti ada periode ketika kanal permintaan institusional melemah. Di sisi lain, ada pula laporan yang menyoroti minggu terburuk dalam hampir setahun untuk ETF spot Bitcoin dengan outflow sekitar US$1,33 miliar (mengacu pada data SoSoValue). Bagi pasar, ETF bukan sekadar “produk”; ETF adalah pipa besar arus dana. Saat pipa itu mengalir masuk (inflow), permintaan meningkat dan harga lebih mudah naik. Saat pipa itu mengalir keluar (outflow), penyeimbang permintaan melemah, dan harga lebih mudah jatuh—apalagi jika berbarengan dengan likuidasi derivatif.

Namun penting juga untuk menempatkan ETF secara proporsional. ETF bukan satu-satunya sumber permintaan Bitcoin, tetapi ia menjadi sumber permintaan yang “terlihat” dan terukur harian. Inilah sebabnya banyak analis dan trader memantau angka inflow/outflow ETF seperti memantau denyut nadi pasar. Jika outflow terjadi di saat pasar sudah rapuh, dampaknya terasa lebih besar. Sebaliknya, bila ETF mulai mencatat inflow saat harga jatuh, sebagian orang melihatnya sebagai tanda “pembeli institusional mulai mengoleksi” (walau itu tidak menjamin titik terendah sudah lewat).

Selain arus dana, psikologi pasar juga punya peran besar. Setelah BTC membuat rekor tinggi pada Oktober 2025, ekspektasi banyak orang menjadi sangat tinggi—sebagian berharap tren bullish berlanjut tanpa banyak gangguan. Ketika pasar tidak bergerak sesuai ekspektasi, kekecewaan muncul, dan investor mulai meragukan narasi yang sebelumnya populer. AP menulis bahwa reli pasca pemilu (dengan ekspektasi kebijakan yang lebih ramah kripto) kini “terhapus”, dan pasar mulai khawatir tentang arah regulasi di Washington meskipun ada sinyal dukungan politik terhadap industri kripto. The Guardian juga menekankan bahwa perusahaan-perusahaan yang “all in” pada Bitcoin ikut terpukul, memperlebar rasa cemas di pasar. Ketika berita seperti ini beredar, ia memengaruhi perilaku investor ritel: banyak yang memilih menjual dulu untuk menghindari penurunan lanjutan, sehingga tekanan meningkat.

Di titik tertentu, penurunan harga Bitcoin juga bisa memukul saham perusahaan yang memiliki eksposur besar ke BTC, lalu memantul kembali ke sentimen kripto. AP menyebut Strategy (perusahaan yang dikenal sebelumnya sebagai MicroStrategy) dan memaparkan besarnya kepemilikan BTC mereka serta posisi biaya rata-rata yang berada di atas harga saat ini, sehingga pasar melihat risiko pada neraca perusahaan. Ketika saham-saham seperti itu ikut melemah, sentimen pasar bisa menjadi semakin hati-hati, terutama di kalangan investor yang terpapar “ekosistem” kripto lewat berbagai instrumen, bukan hanya memegang BTC langsung.

Kalau kita uraikan lebih sistematis, ada beberapa “jalur” penyebab turunnya BTC yang saling menguatkan. Jalur pertama adalah jalur makro: ketidakpastian suku bunga, wacana kebijakan moneter, dan pergeseran dana ke aset aman. MarketWatch menyatakan kekhawatiran terkait kebijakan moneter pasca nominasi Warsh sebagai salah satu faktor, dan juga menyebut bahwa selloff diperbesar oleh likuidasi, serta ada indikasi aksi jual oleh pemegang besar (“whales”). Jalur kedua adalah jalur pasar risiko: ketika saham teknologi melemah, kripto sering ikut terbawa karena dipandang satu keranjang “risk-on”. Barron’s menautkan krisis kripto ini dengan pelemahan Nasdaq dan sentimen AI yang memburuk. Jalur ketiga adalah jalur struktur internal kripto: leverage tinggi, likuidasi, dan kepanikan yang memicu aksi jual berantai. Jalur keempat adalah jalur institusional: ETF outflow dan penurunan minat pada instrumen kripto yang teregulasi, yang memperlemah permintaan di lapisan investor tertentu.

Banyak orang juga bertanya: “Apakah ini berarti Bitcoin gagal sebagai ‘store of value’?” Pertanyaan ini wajar, tetapi jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Dalam kerangka jangka panjang, Bitcoin memang dirancang sebagai aset dengan pasokan terbatas (21 juta BTC) dan sistem yang tidak dikontrol satu negara. Namun dalam kerangka pasar keuangan modern, harga BTC tetap sangat dipengaruhi oleh likuiditas global, sentimen risiko, dan perilaku spekulatif. Artinya, narasi “digital gold” bisa benar sebagai tesis jangka panjang bagi sebagian orang, tetapi dalam jangka pendek BTC bisa tetap sangat volatil—bahkan lebih volatil daripada emas.

Di sisi teknikal (analisis grafik), banyak pelaku pasar menyoroti level-level support psikologis seperti US$70.000, US$65.000, US$60.000, dan seterusnya. Saat level psikologis jebol, reaksi pasar sering tidak rasional: stop-loss terpukul, likuidasi meningkat, berita menjadi lebih heboh, dan investor yang sebelumnya tenang ikut panik. Itulah mengapa kita melihat pergerakan intrahari yang ekstrem seperti range puluhan persen pada saat krisis volatilitas—seperti yang tercermin dari data intrahari di widget harga BTC hari ini. Dalam kondisi seperti ini, “narasi” sering mengikuti harga, bukan sebaliknya: ketika harga jatuh, orang mencari alasan dan berita yang mendukung rasa takut; ketika harga naik, orang mencari alasan yang mendukung optimisme.

Ada pula dimensi regulasi dan politik yang ikut memengaruhi sentimen. The Guardian menyinggung meningkatnya “regulatory headwinds” serta kekhawatiran konflik kepentingan terkait keterkaitan politik dan kripto, yang menambah ketidakpastian. AP menyebut adanya pembahasan di Gedung Putih yang mempertemukan bank dan perusahaan kripto terkait kemungkinan titik temu untuk rancangan regulasi stablecoin, namun juga menggambarkan bahwa proses legislasi bisa tersendat karena benturan kepentingan industri. Bagi pasar, ketidakpastian regulasi bukan hanya soal “aturan jadi lebih ketat atau longgar”, tetapi soal sulitnya memprediksi kerangka bisnis jangka menengah. Ketika investor tidak yakin aturan mainnya, banyak yang memilih menunggu di pinggir lapangan, sehingga permintaan melemah.

Lalu bagaimana dampaknya bagi investor ritel dan masyarakat umum? Pertama, penurunan BTC sering menarik perhatian karena cepat dan dramatis. Sebagian orang yang baru masuk saat euforia puncak bisa mengalami kerugian besar dalam waktu singkat. Ini memunculkan pelajaran klasik: aset volatil seperti Bitcoin memang bisa memberi peluang keuntungan besar, tetapi juga risiko penurunan besar. Kedua, penurunan tajam sering menjadi “stress test” untuk banyak hal: keamanan bursa, kestabilan stablecoin, kesehatan perusahaan yang memegang BTC di neraca, dan disiplin risk management investor. Ketiga, volatilitas bisa mengubah cara orang memandang uang dan tabungan; banyak yang menyadari pentingnya diversifikasi dan tidak menaruh seluruh dana pada satu aset.

Dalam konteks Indonesia, perhatian terhadap BTC biasanya naik saat harga naik dan turun, tetapi risiko yang dihadapi investor Indonesia punya tambahan variabel: nilai tukar rupiah terhadap dolar, biaya transaksi, dan kebiasaan memakai leverage di platform luar negeri. Saat BTC turun dan dolar menguat, kerugian dalam rupiah bisa terasa lebih besar. Sebaliknya, jika BTC turun tetapi dolar melemah, penurunan dalam rupiah bisa sedikit “tertahan”. Meski demikian, inti risikonya tetap sama: volatilitas tinggi membuat pengelolaan posisi menjadi kunci.

Salah satu kesalahan umum saat pasar turun adalah menganggap “turun = pasti murah” tanpa memahami konteks. Harga bisa turun karena koreksi sehat dalam tren naik, atau turun karena perubahan rejim pasar (dari bullish ke bearish), atau turun karena peristiwa sistemik yang memengaruhi likuiditas. Pada fase seperti sekarang, beberapa media menggambarkan pasar mengalami kondisi “capitulation” atau penyerahan massal, yaitu ketika banyak pelaku menjual karena takut, bukan karena kalkulasi nilai wajar. MarketWatch bahkan menyebut narasi “market reset” dan kehati-hatian institusional. Dalam sejarah pasar, capitulation kadang mendekati titik balik, tetapi tidak selalu tepat di hari yang sama; ia bisa terjadi bertahap.

Di sinilah pentingnya membedakan antara tiga gaya pelaku pasar: trader jangka pendek, investor jangka menengah, dan holder jangka panjang. Trader jangka pendek biasanya fokus pada volatilitas dan momentum. Saat volatilitas ekstrem, trader bisa mendapatkan peluang, tetapi juga berisiko tinggi terkena “whipsaw” (harga bolak-balik tajam). Investor jangka menengah biasanya melihat siklus beberapa bulan sampai setahun dan memantau katalis seperti kebijakan suku bunga, ETF flows, dan kondisi likuiditas. Holder jangka panjang cenderung lebih fokus pada tesis seperti adopsi, pasokan terbatas, dan peran Bitcoin dalam portofolio sebagai aset alternatif. Penurunan harga saat ini akan dibaca berbeda oleh tiap kelompok, tetapi untuk pembaca umum, pelajaran yang paling relevan adalah: pahami dulu horizon waktu dan kemampuan menanggung risiko sebelum memutuskan tindakan.

Saat BTC turun, kita juga sering melihat “narasi penyelamat” muncul, misalnya “nanti kalau The Fed mulai melonggarkan, BTC akan naik lagi” atau “ETF akan membeli besar-besaran di bawah.” Narasi ini bisa benar atau bisa terlalu optimis. Di dunia nyata, pasar biasanya tidak bergerak lurus. Bahkan jika ada katalis positif, harga bisa tetap bergejolak karena banyak pelaku butuh “kepastian” lebih dari satu indikator. Contohnya, arus ETF bisa berubah-ubah; ada hari inflow, ada hari outflow, tergantung mood institusional, rebalancing portofolio, dan kondisi pasar saham.

Pada level mekanis, pergerakan besar seperti ini sering dipicu oleh “liquidity gap”, yaitu ketika order beli tipis tetapi order jual besar, sehingga harga turun cepat melewati beberapa level tanpa banyak transaksi di tengah. Ketika liquidity gap terjadi di bursa besar, harga di bursa lain ikut menyesuaikan melalui arbitrase, dan kepanikan menyebar cepat di media sosial. Dalam hitungan menit, narasi “BTC crash” menyebar, lalu memicu penjualan tambahan. Ini menjelaskan kenapa di hari-hari volatil, kita bisa melihat candle merah panjang dan rentang intrahari ekstrem.

Faktor lain yang kerap muncul adalah “refleksivitas” dalam komunitas kripto: harga memengaruhi sentimen, sentimen memengaruhi perilaku, perilaku memengaruhi harga. Di saat harga turun, influencer dan akun besar sering memposting prediksi yang makin ekstrem, baik bearish maupun bullish. Prediksi ekstrem ini memperbesar emosi pasar. Akibatnya, investor ritel sering mengambil keputusan dalam kondisi mental yang tidak ideal. Karena itu, dalam artikel edukatif seperti ini, penting untuk menekankan bahwa memahami sebab-sebab turunnya BTC bukan untuk “membenarkan” panik, tetapi untuk menempatkan peristiwa dalam konteks yang lebih luas.

Lalu, apa saja skenario yang mungkin terjadi setelah penurunan tajam seperti ini? Skenario pertama adalah pemantulan teknikal (technical rebound). Biasanya terjadi jika pasar terlalu oversold, leverage sudah banyak terlikuidasi, dan ada pembeli oportunistik yang masuk. Pemantulan bisa cepat dan tajam, tetapi belum tentu mengubah tren. Skenario kedua adalah konsolidasi: harga bergerak datar dalam rentang tertentu selama beberapa minggu, menunggu kepastian makro dan arus dana. Skenario ketiga adalah penurunan lanjutan (continuation), jika tekanan makro dan outflow institusional berlanjut, atau jika ada peristiwa negatif tambahan (misalnya regulasi, masalah bursa, atau shock pasar saham). Skenario keempat adalah pembalikan tren yang lebih “bersih”, biasanya butuh kombinasi katalis: meredanya ketidakpastian kebijakan moneter, membaiknya risk appetite di saham teknologi, dan stabilnya arus dana ETF.

Untuk pembaca umum, mungkin pertanyaan yang lebih praktis adalah: “Apa pelajaran yang bisa diambil dari BTC yang turun saat ini?” Pelajaran pertama: volatilitas adalah karakter utama Bitcoin. Jika seseorang memegang BTC, ia harus siap secara psikologis menghadapi penurunan tajam, bukan hanya mengincar kenaikan. Pelajaran kedua: leverage memperbesar risiko. Banyak kerugian besar di kripto terjadi bukan karena memegang aset spot, tetapi karena memakai leverage yang terlalu tinggi sehingga terseret likuidasi. Pelajaran ketiga: narasi politik dan makro bisa memengaruhi kripto. Perubahan ekspektasi suku bunga, ketidakpastian regulasi, dan shock di pasar saham bisa menekan BTC walau teknologinya tidak berubah. Pelajaran keempat: arus dana institusional penting. Data outflow ETF yang disebut AP dan laporan outflow mingguan yang besar memberi gambaran bahwa permintaan institusional bisa melemah di fase tertentu, dan itu bisa menambah tekanan harga.

Kalau kamu ingin menulis artikel “yang nyambung ke kondisi saat ini” dengan gaya yang mudah dipahami, kamu bisa membingkai cerita seperti alur berikut: mulai dari fakta harga dan skala penurunan, lalu jelaskan bahwa BTC pernah di puncak Oktober 2025 dan kini turun tajam, lalu uraikan faktor pemicu utama (makro, risk-off, likuidasi, ETF), setelah itu jelaskan bagaimana mekanisme likuidasi mempercepat penurunan, dan tutup dengan pelajaran literasi finansial: pahami risiko, hindari keputusan emosional, dan bedakan antara investasi jangka panjang dan trading. Dengan struktur seperti ini, pembaca tidak hanya tahu “BTC turun”, tetapi juga mengerti “kenapa bisa turun” dan “apa maknanya.”

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda